Sejarah SMA Negeri 1 Kediri

redaksi | Senin, 10 November 2014 - 08:36:46 WIB | dibaca: 56 pembaca

SMA Negeri Kediri berhasil didirikan bersamaan dengan masa revolusi Indonesia, masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Oleh sebab itu dapat dikatakan SMA Kediri ini adalah SMA perjuangan. Bukankah para Guru dan murid tidak hanya sibuk dalam proses belajar dan mengajar saja, namun juga ikut aktif berjuang. Mereka secara bergiliran ikut aktif terjun di front front pertempuran, seperti di Sumberpucung, Malang. Banyak diantara siswa yang aktif di pasukan TNI, TRIP mobilisasi pelajar, palng merah, dapur umum, dan badan badan perjuangan linnya.


Demikian juga para Guru disamping memompa semangat, juga aktif dalam kegiatan mata mata, perang urat syaraf, dan perang gerilya. Banyak diantara siswa dan juga Guru yang gugur dalam perjuangan kemerdekaan Negara kita. Oleh sebab itu masa 1946 ? 1950 ini dapat dikatakan sebagai masa kelahiran dan survival. Meskipun dalam keadaan demikian, disiplin belajar sangat rapuh, pimpuinan sekolah tetap mengupayakan agar kegiatan sekolah bisa berjalan semaksimal mungkin.

Bapak Banoe Iskandar sebagai ketua panitia pendiriran sekolah ditetapkan senagai Direktur/Kepala Sekolah yang masih berstatus swasta ini. SMT Kediri membuka 2 (dua) jurusan yaitu jurusan A (Sastra) dan B (Ilmu Pasti & Alam). Kurikulum tetap mengacu pada kurikulum AMS yang sudah terkenal sangan beratdan ketat itu. Beliau menghimpun para Guru dan Pegawai Negeri yang memnuhi syarat untuk bekerja bersama membangun SMT Kediri.

Jadi SMT Kediri berdiri tanpa ada satupun guru tetap! BApak Banoe iskandar sebagai kepala sekolah masih tetap memperjuangkan agar sekolah ini mendapatkan status Negeri sehingga bisa mendapatkan bantuan tetap berupa keuangan dan pendidikan dari pemerintah, dan Alhamdulillah hanya dalam waktu satu tahunperjuangan ini berhasil. September 1947 Pemerintah mengambil alih SMT Kediri dan menjadi sekolah Negeri dan namanyapun berubah menjadi SMA Negeri Kediri. Namun sebagai konsekwensinya Bapak Banoe Iskandar harus menyerahkan jabatan Direktur Sekolah, karena sesuai dengan standart AMS Direktur AMS haruslah seorang sarjana.

Maka sesuai dengan persyaratan tersebut diangkatlah Bapak Mr. Boedisoesetijo yag sehari harinya menjabat selaku Kepala Pengadilan Negeri Kediri, sebagai Direktur SMA Negerei Kediri.

Sementara itu suasana di Kediri semakin panas, desas desus beredar bahwa Tentara Belanda segera akan memasuki Kediri. Dan kemudian ternyata dugaan ini terbukti pada 19Desember 1948 Belanda melaksanakan serangan yang kita sebut sebagai perang kemerdekaan II atau populernya Clash ke II.

Sekolah bubar, meskipun resminya tetap dibuka, pimpinan sekolah secara formal diserahkan kembali kepada Bapak Banoe Iskandar, namun dalam pelaksanaannya tidak ada kegiatan belajar. Hampir semua guru dan siswa memilih mengungsi keluar kota, di lereng Gunung Wilis dan Kelud, sambil ada yang membuka pelajaran pengungsian.

Sementara serangan gerilya kota tetap menghantui pasukan Belanda di Kediri. Sebagian besar gerilyawan ini adalah pelajar sekolah termasuk SMA Negeri Kediri. Akhirnya persetujuan penyelesaian kedaulatan bisa disepakati antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda pada akhir tahun 1949.

Awal tahun1950 SMA Negeri Kediri di buka kembali. Kali ini terjadi lagi perubahan pimpinan, Bapak Mr. Boedisoesetijo pindah ke Surabaya, maka ditunjukkan Bapak Ir. Nowo yang sehari harinya adal kepala pabrik kimia di Kediri, selaku Direktur SMA Negeri Kediri. Karena situasi masih belum menentu sebagai akibat Clash ke II tersebut maka pada periode ini sekolah masih pada fungsi pembenahan.

Pada masa ini pemerintah kita juga menghadapi persoalan dengan nasib para pelajar pejuang semasa Clash ke II dulu, untuk memecahkan persoalan tersebut pemerintah mengeluarkan surat keputusan nomor 3141/B tanggal 4 Mei 1950 dengan menetapkan membuka kelas filial bagi para bekas anggota Brigade XVII dan Mobilisasi Pelajar untuk mengikuti pelajaran di SMA Negeri Kediri. Ini nantinya kita kenal sebagai kelas perjuangan.

Suatu hal yang menggembirakan pada bulan Juli 1950 SMA Negeri Kediri telah berhasil meluluskan Alumni-nya yang pertama, 17 orang dari jurusan A dan 17 orang dari lulusan B stsu 50% dari jumlah siswa.


Masa Pembentukan Kepribadian (1950 ? 1970)

Kondisi sementara ini tidak berlaku lama, pada bulan Agustus 1950Pemerintah Republik Indonesia telah menunjuk seorang guru tetap untuk memimpin SMA Negeri Kediri, disesuaikan dengan kurikulum Negara Indonesia Merdeka. Neliau adalah Bapak R.S. Djajengsoegianto, yang mulai memimpin SMA Negeri Kediri sejak 17 Agustus 1950.

Dibawah kepemimpinan Pak Djajeng inilah SMA Negerei Kediri mulai menata dirinya sebagai salah satu SMA yang dapat diandalkan di Indonesia. Meskipun ada sedikit hambatan yaitu sangat kurangnya jumlah guru tetap serta sarana pembelajaran lainnya. Dan bahkan karena kekurangan tenaga guru yang berkompeten di bidang sastra, mak pada tahun 1950 jurusan A atau Sastra dinyatakan tutup.

Pada masa ini berhasil pula ditetapkan lambang sekolah (1951), penetapan lagu sekolah Mars SMA Negeri Kediri (1956), disamping meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler : olah raga dan kesenian. Meningkatkan kualitas pengajaran para guru. Jangan heran kalau pada masa itu banyak lulusan SMA Negeri Kediri yang berhasil ditereima melanjutkan pelajarannya diperguruan tinggi terkemuka bahkan juga diluar Negeri.

Disamping itu sesuai dengan masanya, bagi lulusan yang langsung terjun ke masyarakat, ternyata banyak lulusan yang sukses dimasyarakat. Uji coba kualitas pendidikan serta sejauh mana pangaruh SMA Negeri Kediri terhadap masyarakat dilaksanakan pada bulan September 1956. sekolah melaksanakan acara dasa warsam, dan ternyata sambutan masyarakat memang sangat bagus. Ini membuktikan bahwa SMA Negeri Kediri memang sudah diterima dan menjadi kebanggaan masyarakat Kediri.

Pada tahun 1955 SMA Negeri Kediri kembali membuka jurusan A (Sastra) mengiggat di Kediri ini sudah berhasil didapatkan guru-guru yang berkualitas dalam jumlah yang cukup. Selanjutnya pimpinan sekolah juga berusaha untuk mengembangkan sekolah yaitu dengan mengupayakan pembangunan sebuah gedung baru berlantai 3.

Perjuangan ini mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah dengan mengusahakan dana pembangunan dari Colombo Plan. Maka mulai tahun 1956 dilokasi sebelah barat sekolah yaitu nantinya jalan Klotok 7 mulai dibangun sebuah gedung sekolah baru (pembangunannya bersamaan dengan gedung sekolah SMA di Madiun termasuk desainnya).

Tahun 1959 gedung tersebut telah selesai pembangunannya, dan jurusan A mulai dipindahkan ke gedung baru. Sementara itu, pada tahun itu (Tahun Ajaran 1959/1960) sekolah mulai membuka jurusan C (Hukum dan Ekonomi) yang juga ditempatkan digedung baru jalan Klotok 7 Kediri.

Namun dengan memperhatikan span of control dan beberapa pertimbangan lain, maka jurusan A dan C digedung baru itu dilepaskan dari SMA Negeri Kediri, dan berdiri sendiri. Terhitung sejak tanggal 1 Agustus 1960, SMA Negeri Kediri dipecah menjadi dua, pemecahan ini kemudian ditinjak lanjuti dengan surat usulan kepala U.P.S.M.S Jakarta nomor B.8244/B3/K.60 tanggal 23 November 1960 dan akhirnya mendapatkan persetujuan dari Menteri Pendidikan, pengajaran dan kebudayaan dengan surat keputusan nomor 27857/G.O.

Dengan demikian mulai tahun 1960 di Kediri ada 2 sekolah SMA, jurusan B dilokasi lama ex gedung MULO jalan Klotok 1 sebagai SMA Negeri 1 sedangkan jurusan A dan C digedung baru jalan Klotok 7 menjadi SMA Negeri 2 Kediri. Jadi yang namanya SMA Negeri 2 Kediri adalah adik kandung dari SMA Negeri 1 Kediri, maka tidak aneh apabila sampai saat ini tahun 2006 lagu sekolah antara SMA 1 dan SMA 2 adalah sama!

Pada tahun 1961 karena sesuatu hal, Bapak Djajengsugianto mengundurkan diri dari melanjutkan studi beliau ke F.K.I.P Universitas Gajah Mada di Yokyakarta. Maka kempemimpinan sekolah diserahkan kepada Bapak Mohammad, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil kepala sekolah.

Pada masa kepemimpinan Bapak Mohammad masih tetap melaksanakan kebijakan yang telah diambil sebelumnya, sambil terus mengusahakan peningkatan kualitas pendidikan. Mulai menambah jumlah guru yang kompoten, yang usianya relatif masih muda dan dengan semangat tinggi ikut membangun perkembangan SMA Negeri 1 Kediri

Perubahan yang signifikan terjadi ketika pemerintah menetapkan Kurikululum baru yang terkenal sebagai Kurikulum SMA Gaya Baru, dimana setiap sekolah wajib membuka 4 jurusan Pasti,Alam, Sosial dan Budaya berlaku mulai kelas 2, pada tahun 1962. Pada ijazah tidak lagi dicantumkan nilai setiap mata pelajaran, melainkan hanya Predikat kelulusan secara kualitatif, yaitu Baik, Cukup dan Kurang (tidak lulus).

Namun situasi dan kondisi politik dalam Negeri ternyata juga merembet mempengaruhi susasana pembelajaran di masa itu, partai politik mulai memasuki rencana wilayah sekolah dengan memasukkan organisasi onderbow-nya baik secara terang terangan maupun tersamar. Yang berat guru gurupun ikut terpengaruh, dan ini pada saatnya jugan mempengaruhi para siswa, meskipun formalnya hanya kegiatan ekstra, tapi nyatanya pengaruhnya terasa sampai di intra sekolah.

Hal ini memuncak dengan peristiwa tragedi September 1965. SMA Negeri 1 Kediri-pun termasuk kena dampak peristiwa ini, adanya guru dan siswa yang terkena, suasana ajar mengajar yang tidak kondisif, timbulnya rasa perpecahan serta intrik-intrik diantara guru dan siswa. Akibat pada periode 1966-1969 ontra-ontra ini memakan korbanya juga.

Benerapa guru yang tidak betah dengan Susana ini memilih meninggalkan sekolah dengan berbagai alas an. Masalahnya para guru yang mundur ini justru para guru yang cukup bermutu. Pada saat inilah terasa mutu sekolah cenderung menurun! Satu hal lagi yang perlu dicatat, pada tahun 1966 akibat situasi politik yang tidak menuntut masa kekolah diundur selama 6 (enam) bulan.


Masa Pemulihan dan Pengembangan (1969 - 1986)

Pada tahun 1969 Bapak Mohammad memasuki usia pensiun, maka jabatan kepala sekolah di serah terimakan kepada bapak Prijo Sanjoto. Pada masa ini mulai dibenahi lagi susunan masa guru, antara lain mengurangi sebanyak mungkin tenaga guru tidak tetap dan diganti dengan guru tetap. Dengan cara ini diharapkan para guru akan lebih bersungguh sunggauh dan lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

Disamping itu juga dilaksanakan pembangunan fisik sekolah, baik akibat bencana banjir rutin kediri, pengamanan sekolah maupun peningkatan mutu sekolah (pendirian gedung perpustakaan). Ini semua dilaksanakan dengan dana yang sangat terbatas. Pendekatan dengan pihak pemerintah juga di upayakan sehingga SMA Negeri 1 Kediri bisa mengikutsertakan siswanya pada Tim Paskibraka di Jakarta.

Selanjutnya terjadi lagi mutasi pimpinan sekolah pada tahun 1973, kepala sekolah di pegang oleh Bapak Surono BA, beliau lebih menekankan pada upaya perbaikan internal. Tidak lama kemudian pada tahun 1976 pimpinan sekolah diserahkan kepada Bapak M. Dawam Mimbar, seorang guru senior yang sudah berpengalaman sebagai kepala sekolah. Pada tahun 1976 ada sekitar perubahan kurikulum yaitu diterapkan kurikulum 1976 dan yang disempurnakan. Mulai kelas 1 semester 2 siswa mulai diarahkan untuk memilih jurusan IPA dan IPS.

Selama kurun waktu 1976 - 1985 banyak yang di upayakan baik peningkatan fisik maupun kualitas pedidikan, termasuk kegiatan ekstra kulikuler dari segi fisik sekolah telah membeli tanah sawah yang kondisinya rusak akibat banjir di belakang sekolah seluas 15.000 M2. Tanah ini nantinya dipakai untuk pengembangan sekolah berupa tambahan ruang kelas, masjid, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Untuk itu telah disiapkan sebuah master plan pengembangan pembangunan sekolah di masa depan.

Situasi politik di tahun 1978 ternyata memakan korban juga, masa sekolah di undurkan lagi selama 6 bulan. Jadi para siswa yang seharusnya lulus pada akhir tahun 1978 di undurkan menjadi lulus pada pertengahan tahun 1979. sementara itu pada tahun 1984 mulai di perlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum 1984, sewaktu naik ke kelas 2, siswa memillih jurusan Budaya/Bahasa dan ketrampilan, social/ekonomi, Alam/Fisika dan Biologi. Kurikulum ini di rubah pada tahun 1986 yaitu dengan menambahkan bidang studi pendidikan sejarah Perjuangan Bangsa untuk semua jurusan .

Dalam bidang pendidikan hasilnya terasa ketika pada tahun 1984 jumlah siswa di jalur PMDK pada perguruan tinggi Negeri sebanyak 22 siswa, ini adalah nomor 4 di jawa timur.

Tahun berikutnya 1985, malah lebih meningkat menjadi 88 siswa, ini berarti nomor 1 seluruh Indonesia! sedangkan dalam kegiatan ekstra kurikuler prestasi siswa juga dapat di banggakan, tahun 1980 seorang siswa terpilih sebagai pemain basket nasional pada acara SEA Games dan bahkan Asia Games. Tahun 1985 kembali bisa mengikutsertakan seorang siswi sebagai anggota Regu Paskibraka Nasional, mengibarkan bendera di Istana Merdeka Jakarta.


Masa Persaingan dan Globalisasi (1987 - Sekarang)

Sesuaidengan perkembangan dunia pendidikan maka di Kediri sudah berdiri 7 (tujuh) SMA Negeri, belum lagi di daerah daerah sekitar kabupaten Kediri, apa lagi kalau diperhitungkan di seluruh Indonesia ini! Oleh sebab itu dikalangan SMA tersebut wajar dan harus tumbuh semangat persaingan dalama arti positif. Artinya diantara SMA-SMA tersebut dituntut masyarakat untuk mengahsilkan lulusan yang bermutu. Dalam hal ini pihak sekolah kita menghadapi kendala luar dalam.

Kendala dari luar misalnya karena adanya perubahan system kurikulum, satu system masih belum bisa berjalan dengan baik, hasilnya masih belum diketahui dengan pasti, sudah diganti dengan kurikulum baru. Factor lain adalah adanya ketentuan baru seperti pendafataran masuk kesekolah SMA diatur berdsarkan rayonisasi.

Akibat dari system ini ternyata pernah sangat merugikan SMA kita, karena SMA 1 diwajibkan hanya menerima siswa dari SMP tertentu saja, yang kebetulan kualitas pendidikannya kurang memadai. Keluhan para guru antara lain adalah : kalau bakalan niat kurang bagus, di didik seperti apapun masih akan kurang bermutu bila dibandingkan dengan siswa yang bakalannya bgus. Disamping ini terasa sekali sejak pertengahan decade 80?an. Mungkin karena salah menterjemahkan delapan jalur pemerataan, kususnya azas pemerataan dalam bidang pendidikan, maka muncul kecenderungan bahwa smua siswa, tidak peduli kualitasnya pasti akan lulus pada saat ujian akhir. Artinya pintar goblok podo wae sami mawon (PGPS)! Akibatnya siswa semau gue sekolahnya, dan pada gilirannya semangat guru untuk mengajar jadi ter-erosi pula.

Sedang dari dalam sendiri adalah kurangnya kesadaran diantara pihak sekolah dan siswa bahwa mereka harus bersaing dengan sekolah lain tidak hanya di Kediri namun juga diseluruh Indonesia. Mereka mungkin hanya tergiur target sementara saja, bahwa yang penting lulus SMA. Tidak terpikir bagaimana jenjang selanjutnya, bersaing masuk universits, bersaing lulus sarjana, bersaingterjun ke masyarakat, bagaimana mendapatkan pekerjaan ditengah sulitnya lapangan pekerjaan saat ini. Padahal dasar dasar untuk itu seharusnya diperoleh saat sejak mereka masih di didik di SMA.

Dalam keadaan seperti inilah sekolah kia harus tetap bisa mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu sekolah ?Favorit? di Kediri. Diupayakan kelengkapan sarana pembelajaran serta upaya peningkatan kualitas pendidikan lainya bebrapa hal yang perlu dicatat selama periode ini adalah berhasil didirikan Koperasi siswa dan UKS serta beberapa kegiatan siswa lainya. Selama tahap ini terjadi beberapa kali pergantian kepala sekolah, sebagai berikut :

Bapak Drs. H. Rochhadi (1985-1991)

Bapak H. Nangin BA (1991-1993) yang juga alumni sekolah kita tahun 1956

Bapak Drs. Masroeki BBA (1993-1995)

Bapak Sumardi BA (1996-1997)

Bapak Drs. H. Waridjo Hadisiswoyo (1997-2003)

Bapak Drs. H. Sujarwoto M.Si (2003-2008)

Bapak Drs. Dwi Rajab Januhadi M.Pd (2008-Sekarang)

Dalam bidang teknis pendidikan, selama kurun waktu ini tercatat beberapa kali perubahan kurikulum yaitu :

1. Kurikulum 1989 : yaitu system kurikulum dengan pola pembelajaran menggunakan pola CBSA (cara penbelajaransecara aktif) dengan program penjurusan A1-A2-A3-A4.

2. Kurikulum 1994, disempurnakan dengan suplemen 1999 : system pembelajaran dengan menggunakan metode ketrampilan proses.; program penjurusan dilaksanakan kelas 1 naik ke kelas 2, jurusannya adalah : A-1 ilmu fisika, A-2 ilmu biologi, A-3 ilmu-ilmu social, A-4 ilmu bahasa, serta penghapusan mata pelajran PSPB, penambahan atau uplemen dalam kurikulum 1999 berkaitan dengan perubahan politik kearah era Reformasi.

3. Kurikulum 2004 : jurusan hanya ada IPA dan IPS berlaku mulai kelas 2.

Sejak tahun 1996 dengan terlaksananya Reuni Akbar pertama memperingati ulang tahun sekolah ke 50 mulai dibina hubungan yang baik dengan pihak alumni. Lebih-lebih pada kepemimpinan Bapak Drs. Sujarwoto init teras sekali hubungan yang sangat meningkat dan rutin dengan alumni. Hal ini bisa dimengerti karena dilain pihak alumni kususnya yang senior ini masih peduli trhadap almamater, kita sangat mengkhawatirkan kualitas pendidikan yang cenderung menurun. Oleh sebab itu sejauh mampu pihak alumni juga berusaha membantu meningkatkan keandalan sekolah (selanjutnya baca buku bagian ke-2 : ALUMNI).

Sementara itu mulai tahun 2006 ini diperkenalkan system Full Day School jam sekolah sejak pagi hingga sore, disamping mendapatkan pelajaran biasa sesuai dengan kurikulum juga diberikan tambahan pengetahuna untuk peningkatan kematangan emosional siswa, serta melengkapinya dengan pengetahuan yang bisa menunjang kemampuan Life Skill: seperti Multi Media, keterampilan foto atau video, eccounting terapan dan lain-lain.

Tentunya kita semua selalu mengharapkan agar kualitas sekolah SMA Negeri 1 Kediri bisa bertahan dan bahkan bisa menjadi nomor satu lagi di Kediri, seperti dulu di tahun 50 dan 60-an serta awal 80-an, masa kejayaan SMA Negeri 1. harus bisa!!